DIULANG TAHUNNYA YANG KE-6 TORAJA UTARA

Dibawah ini Menurut Anda Yang harus Dibenahi di Toraja Utara: A. Infrastruktur B. Sarana Dan Prasarana. C. Pejabat Berkompeten (SKPD) Untuk mengirim tanggapan ISI KOLOM dibawah INI. Atau kirim ke email: kabartoraja@gmail.com atau via FB kabartoraja.
Email:
Judul:
Pesan:
Pertanyaan anti spam: Berapa jumlah mata manusia?

Video Toraja

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini1876
mod_vvisit_counterKemarin15537
mod_vvisit_counterMinggu ini54376
mod_vvisit_counterMinggu kemarin52496
mod_vvisit_counterBulan ini232765
mod_vvisit_counterBulan Kemarin325335
mod_vvisit_counterTotal7994398

We have: 178 guests, 1 members online
IP anda: 54.198.126.197
 , 
Today: Jul 25, 2014
-Perlukah Transmigrasi di Toraja Utara?-

Editor: KTC01 / Oleh : Johanis Oktovianus Saleng Bari

KABAR-TORAJA.COM- Transmigrasi di Toraja Utara menjadi topik yang sangat hangat diulas. Saat issu ini juga marak dibicarakan oleh para facebooker Toraja, terkait hal itu Dewan Pembina Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Drs. Johanis Oktovianus Seleng Bari , MM, mempertanyakan akan rencana program transmigrasi ini, utamanya akan seperti apa Toraja nantinya setelah program ini di jalankan, melalui rilis yang dikirimkan via email kepada redaksi Kamis (27/9/2012).


Menurutnya Toraja yang terkenal dengan sebutan “Tondok Lepongan Bulan, Tana Matari’ Allo” adalah daerah yang 99.9% tata kehidupan masyarakat dan tata kelola alamnya di atur oleh adat istiadat.


Karena itu Toraja menjadi sangat berbeda dengan wilayah lain. Pertanyaan kritisnya apakah sudah siap menerima budaya lain yang di bawa oleh transmigran nantinya, atau sejauh apa budaya lain (budaya asli transmgran) mempengaruhi budaya Toraja?.


Seberapa besar manfaat bagi masyarakat toraja akan hadirnya transmigran ini ?. Apakah program ini hanya sebagai bentuk partisipasi pemerintah daerah Kab. Toraja Utara terhadap pemerataan penduduk ?.


Bagaimana kesiapan Pemda Kab. Toraja Utara dalam melindungi budaya lokal terhadap infiltrasi budaya lain yang cepat atau lambat akan terjadi?. Sebesar apa peran tokoh dan lembaga adat Toraja dapat menjadi pengawas, pengarah dan pelindung akan pengaruh budaya lain yang secara fisik hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya dan masyarakat Toraja?.


Dari pendapat, saran dan kritik yang disampaikan oleh “orang Toraja” baik yang tingggal dan berkarya di kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja maupun yang berada di perantauan, khususnya para facebooker, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada umumnya mereka mempunyai pertanyaan atau “kekhawatiran” yang sama atas kemungkinan lunturnya serta terkontaminasinya tatanan budaya Toraja yang sudah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat serta “Tatanan Lain” dalam masyarakat yang juga sudah berurat-berakar dalam masyarakat Toraja dan bahkan mungkin dipertahankan dengan pengobanan jiwa dan raga.


Bisa dibayangkan bahwa bagi sebagian orang, mungkin dengan ulasan ini akan berpendapat bahwa ada keegoisan dan ingin menutup Toraja dari program pemerintah khususnya transmigrasi, mengisolasi diri dan tidak nteraksi dengan masyarakat dari wilayah lain, dari suku lain dan bahkan dari agama lain.


Kabupaten Toraja Utara sebagai bagian dari NKRI haruslah turut serta dalam menjalankan program pemerintah secara nasional, salah satunya adalah transmigrasi. Bahkan menteri Tenaga kerja dan transmigrasi menyebutkan bahwa program transmigrasi sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan menjadi semakin relevan.


Termasuk pilihan-pilihan agar pembangunan transmigrasi menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk membangun pertumbuhan baru di daerah penempatan”.

(http://andiriyanto.wordpress.com/2010/01/13/program-transmigrasi-tetap-jadi-solusi-atasi-kemiskinan/).

 

Bukan Soal Menolak Dan Menerima


Persoalan utama dari program tranmsmigrasi di Kab. Toraja Utara bukanlah soal menolak atau menerima karena pemerintah Kab. Toraja Utara adalah bagian dari pemerintah pusat yang berkewajiban menjalankan program pembangunan nasional.


Namun menjadi penting bahwa pemerintah daerah harus melihat lebih jeli dan detail manfaat penerapan program ini khususnya yang berpengaruh bagi tatanan masyarakat dan budaya – adat istiadat masyarakat Toraja utara yang sangat spesifik.


Kalau akhirnya harus menempatkan transmigran di wilayah toraja utara wajiblah mempertimbangkan bahwa program itu bermanfaat dan mendukung kelestarian budaya-adat istriadat serta tananan soaial masyarakat toraja yang sudah menjadi tatanan yang dianut dan dijalankan turun temurun.


Dalam siaran pers Kemenakertrans, Ahad, 15 Juli 2012 lalu. Dalam siaran yang saya baca di salah satu sumber di internet, Direktur Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi, Jamaluddien Malik mengatakan bahwa KEMENNAKERTRANS tahun ini akan membuka lokasi transmigrasi baru di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Rencananya 200 kepala keluarga transmigran akan dikirim ke lokasi baru tersebut yang berasal dari lima provinsi asal, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Lampung. Dikatakan bahwa lokasi baru ini menjanjikan bagi para transmigran. Pasalnya tanah di Kabupaten Toraja Utara ini cocok untuk dijadikan lahan komoditas perkebunan dan pertanian. "Kondisi geografis pada kabupaten ini sangat cocok untuk perkebunan kopi, markisa, cengkeh, dan kakao.

 

Pernyataan pak Dirjend, ada benarnya namun mengapa harus mendatangkan transmigran mengelolah lahan potensial yang dimaksud ?. Kabupaten Toraja Utara masih mempunyai pengangguran yang cukup signifikan. Mengapa tidak memberikan pelatihan pendidikan dan lain sebagainya untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mengelola lahan potensial di kampung sendiri.


Pengalaman di daerah transmigrasi lainnya, para transmigran juga bukan petani yang instan yang siap pakai setibanya dilokasi. Mereka pun masih mendapatkan pembinaan oleh pemerintah sampai mereka dapat surprice di daerah baru tersebut. Saran saya, dari pada mendatangkan transmigran dari luar daerah yang menurut saya tidak akan banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi toraja utara lebih baik mendidik dan mendayagunakan tenagakerja yang masih ada untuk mengelola perkebunan.


Sekiranya ada perusahaan induk / ionvestor yang akan mengelola perkebunan yang di maksud, saya kira juga lebih efektif menggunakan tenaga kerja lokal dari pada mendatangkan transmigrasi. Toraja memang adalah daerah potensi dalam bidang perkebunan tetapi bukan daerah transmigrasi.

 

Seharusnya pemerintah sudah mulai sadar bahwa pelaku ekonomi di kab. Toraja Utara adalah orang-orang diluar kabupaten ini. Komoditi-komoditi pentingpun datangnya dari luar Toraja Utara yang sebenarnya sangat bisa dilakukan oleh penduduk setempat di Toraja.


Sebagai contoh, dalam perjalanan saya ke Palopo beberapa waktu lalu, saya menjumpai ada sekira 12 truck berpapasan dengan mobil yang saya tumpangi. Tujuh truck diantaranya bermuatan “utan bai” untuk makanan ternak babi dan sisanya truck bermuatan “Riu” untuk makanan ternak tedong.


Saya sempat bertanya kepada salah satu sopir (yang kebetulan orang Toraja), dari mana asal komoditi ini ?. Sang sopir menjawab dari Bone-Bone, kemudian dia menjelaskan bahwa yang empunya lahan “utan Bai” dan “Riu” ini adalah orang Bali, jadi kami membeli dari pemilik lahan. Ironisnya, para pekerja yang menyabit rumput dan di upah oleh pemilik lahan adalah orang Toraja.


Semoga kita tidak mendatangkan transmigrasi untuk menanam Riu dan utan bai!

 

Semoga bermanfaat,

 



Tags: Transmigrasi  Toraja  
 

Play Group Agape


Agape Play Group dan Penitipan Anak

banner

Tour And Travel

Permata Travel

JOKOWI Atau PRABOWO?

Pilih Pasangan Capres-Cawapres Anda Ini
 

Penulis Pariwisata Toraja


Hakcipta © 2011 Kabar Toraja. Semua Hak Dilindungi.