Kedukaan Dan Kenyamanan Warga Salubarani

KABAR TORAJA– Banyak yang memperkirakan jumlah orang Toraja yang tinggal diluar Toraja kemungkinan dua atau tiga kali lebih banyak dibandingkan orang Toraja yang tinggal dan bermukim di Toraja.

Sekalipun banyak yang sudah puluhan tahun tinggal dirantau, bahkan sudah beranak pianak dengan pasangan hidup sesama kaum Toraja atau orang luar Toraja, sifat ka Torayaan tetap tertanam kuat yang antara lain dicirikan dengan bila yang bersangkutan meninggal, jenazahnya dibawa pulang untuk dikuburkan di Toraja.

Atau bila tidak sempat, dikuburkan lebih dahulu di tempat tinggalnya di rantau namun bila kondisi memungkinkan, tulang belulangnya dibawa kembali ke Toraja untuk dikuburkan bersama-sama dengan kaum kerabatnya. Mungkin karena itu pula maka kini di Toraja semakin banyak dibangun patani, sebuah bangunan yang bisanya milik keluarga dimana jenasah-jenasah dari keluarga disatukan didalam patani tersebut.

Karena itu tak heran bila setiap hari banyak mobil pembawa jenasah (ambulance) menuju Toraja, membawa jenasah baik warga Toraja yang meninggal di Makassar dan sekitarnya maupun yang meninggal di tanah rantau.

Umumnya ambulance ini masuk wilayah Toraja pada dini hari dan banyak yang disambut kaum kerabatnya di daerah perbatasan di Salubarani, sebuah wilayah di Kecamatan Gandasil.

Acara penyambutan tersebut sering mengganggu kenyamanan warga Salubarani yang sedang tidur nyenyak karena terbangun oleh suara gemuruh motor dan mobil para penjemput dan pengantar.

Dan di lokasi tersebut, mobil keluarga yang menemani jenasah di ambulance berhenti sejenak minum kopi, baru dilanjutkan dengan jalan berarak arakan menuju ke rumah duka di wilayah lainnya di Toraja.

Kalau hanya sekali dua kali saja dalam sebulan, mungkin tak masalah, warga perbatasan bisa maklum, namun kalau setiap hari, tentu harus dicarikan solusinya oleh pemerintah karena mengganggu kenyamanan warga yang sedang istirahat.

Sekitar lima tahun yang lalu beberapa warga Salubarani menyatakan keluhan tersebut dan mengharapkan agar pemerintah daerah membangun sebuah arena sebagai sarana pemberhentian sekaligus tempat penjemputan jenasah yang baru masuk ke Toraja.

Arena tersebut tentu baiknya terpisah jauh dari pemukiman dan dilengkapi dengan bangunan sederhana sebagai tempat untuk minum kopi atau bernaung bila hujan sebelum arak arakan jenasah dengan pangantar dan penjemputnya meneruskan perjalanan.

Hal ini mungkin bagi sebahagian orang terlihat sederhana, namun perlu mendapat perhatian dari pemerintah sebagai appresiasi bagi warga perantau, keluarga yang berduka dan kenyamanan warga Salubarani.

Penulis: Ophir S
Editor: Jakfar Al Parani

Redaksi membuka ruang kepada pembaca untuk mengirimkan artikel, opini, ataupun peristiwa dengan mengirikan melalui form citizen report, atau email: info@kabar-toraja.com.

Komentar Anda